Pernah nggak sih kamu scroll LinkedIn terus bingung lihat teman-temanmu yang tiba-tiba jadi UX Designer di startup keren? Di satu sisi ada sertifikat Google UX Design yang katanya lengkap banget, di sisi lain Meta UX Design yang terasa lebih “insider” ke dunia produk digital. Dilema ini nyata terutama kalau kamu lagi pertimbangkan investasi waktu dan uang untuk pivot karir atau upskill. Tenang, kamu nggak sendirian. Saya juga pernah menghabiskan berjam-jam membanding-bandingkan dua program ini sebelum akhirnya ambil keputusan.

Kenapa Perbandingan Ini Lebih dari Sekadar “Google vs Meta”?
Masalahnya, dua kursus ini punya DNA yang beda meski sama-sama ngajarin UX. Google UX Design Certificate (via Coursera) dibangun dengan filosofi democratizing design education—artinya mereka buat untuk semua orang, dari nol, dengan bahasa yang super ramah pemula. Meta UX Design Certificate (via Coursera juga) justru punya nuansa lebih teknis, lebih dekat dengan cara tim produk di Big Tech bekerja.
Pilihanmu akan langsung ngaruh ke:
- Cepatnya kamu dapet kerja atau klien pertama
- Portfoliomu terlihat “seperti apa” di mata hiring manager
- Seberapa dalam pemahamanmu soal strategi bisnis di balik desain
- Budget dan waktu yang harus dianggarkan
Jadi ini bukan soal “yang mana lebih bagus”, tapi “yang mana lebih cocok dengan konteks kamu”. Mari kita bedah masing-masing.
Google UX Design Certificate: Detail Program
Kalau kamu pernah coba kursus online yang ternyata cuma tumpahan teori abstrak, kamu bakal ngerasakan perbedaan signifikan di sini. Google ngajarnya praktis banget.
Struktur & Durasi
Program ini terdiri dari 7 kursus yang totalnya sekitar 6-8 bulan kalau kamu belajar 10 jam per minggu. Durasi video per minggu rata-rata 2-3 jam, tapi jangan tertipu—90% waktumu akan habis di proyek hands-on. Ada capstone project di akhir setiap kursus, dan itu wajib dikerjain kalau mau sertifikat.
Gaya Pengajaran & Materi
Instruktornya adalah praktisi UX di Google, bukan akademisi. Bahasanya sederhana, kasual, dan penuh contoh nyata dari produk Google. Mereka bahkan ngajarin kamu cara nge-push back ke stakeholder yang minta revisi absurd—skill yang jarang diajar di tempat lain.
Materinya mulai dari:
- Empathize, Define, Ideate, Prototype, Test (Design Thinking klasik)
- Wireframing di Figma
- UX Research dengan metode Google sendiri
- Design System dan Accessibility
Yang paling kuat: fokus besar pada portofolio case study. Kamu bakal punya 3 proyek lengkap yang siap dipamerin ke employer.
Tools & Praktik
Figma adalah tool utama. Kamu juga bakal pakai Google Slides untuk presentasi, Google Forms untuk research, dan Miro untuk colllaboration. Semuaya gratis atau punya versi gratis yang cukup. Ini sangat membantu kalau budgetmu terbatas.

Meta UX Design Certificate: Detail Program
Kalau Google terasa seperti mentor yang sabar, Meta itu seperti senior engineer yang langsung to the point. Program ini lebih baru (launch 2022) dan langsung bikin heboh karena brand Meta yang kuat di ranah produk digital.
Struktur & Durasi
Total 7 kursus juga, tapi bisa selesai lebih cepat—sekitar 5-7 bulan dengan 10 jam/minggu. Bedanya, Meta lebih agresif dalam assignment-nya. Mereka ngasih deadline yang lebih ketat dan ekspektasi lebih tinggi soal kualitas deliverables.
Gaya Pengajaran & Materi
Instruktur dari Meta, Facebook, Instagram, dan WhatsApp. Materinya langsung dari playbook internal mereka. Kamu bakal belajar:
- Problem framing yang lebih strategis
- Data-driven design dengan SQL dan Amplitude (lebih teknis!)
- Design System yang skala Meta
- Cross-functional collaboration dengan PM dan Engineer
Yang menonjol: mereka ngajari kamu cara mikir seperti Product Designer, bukan cuma UX Designer. Kamu bakal sering denger istilah “business impact”, “metrics”, dan “growth design”.
Tools & Praktik
Selain Figma, kamu bakal pakai:
- Amplitude untuk analytics (versi gratis tersedia)
- SQL dasar untuk query data user
- Principle atau ProtoPie untuk prototyping tingkat lanjut
Ini bisa jadi shock kalau kamu dari background non-teknis. Tapi justru ini yang bikin lulusan Meta terlihat lebih “siap kerja” di startup data-heavy.
Perbandingan Head-to-Head
Mari kita masuk ke data konkret supaya kamu bisa hitung sendiri ROI-nya.
Harga & Aksesibilitas
Keduanya di Coursera dengan model subscription $49-59/bulan. Total biaya tergantung kecepatan kamu:
- Google: Rata-rata $300-400 total (6-8 bulan)
- Meta: Rata-rata $250-350 total (5-7 bulan)
Tapi hati-hati: Meta butuh tools tambahan yang mungkin berbayar kalau versi gratisnya nggak cukup. Google lebih “all-in-free”.
Kedalaman Materi
| Aspek | Google UX Design | Meta UX Design |
|---|---|---|
| UX Research | Lebih luas (kualitatif + kuantitatif) | Lebih dalam di kuantitatif & data |
| Visual Design | Fundamental kuat | Lebih fokus ke sistem, less pixel-perfect |
| Business Strategy | Basic (problem-solution fit) | Advanced (metrics, ROI, growth) |
| Technical Skills | Minim (HTML/CSS opsional) | SQL, analytics, prototyping advanced |
Relevansi Industri
Hiring manager di startup lokal Indonesia sering lebih kenal sertifikat Google—mereka lihatnya sebagai standar entry-level yang aman. Tapi kalau kamu apply ke startup series A ke atas atau tech company regional yang data-driven, Meta certificate bisa jadi differentiator karena skill data-nya.
Portfolio Building
Google ngasih 3 case study yang template-nya sudah teruji menarik perhatian recruiter. Meta cuma ngasih 2 tapi dengan ekspektasi lebih tinggi—mereka mau lihat kamu bisa presentasi ke C-level dan defend desainmu dengan data. Portofolio Meta lebih “mature” tapi butuh effort lebih.
Siapa untuk Kursus Mana?
Nggak ada yang namanya one-size-fits-all. Ini decision tree-nya:
Ambil Google UX Design kalau:
- Kamu absolute beginner dari background apapun
- Budget sangat terbatas (butuh semua tools gratis)
- Targetmu kerja di agency, corporate, atau startup early-stage
- Kamu butuh portofolio banyak untuk apply banyak posisi
Ambil Meta UX Design kalau:
- Kamu sudah punya basic design atau kerja di produk digital
- Kamu nyaman dengan angka dan data
- Targetmu Product Designer di startup growth-stage atau Big Tech
- Kamu mau skill yang langsung applicable untuk kerja sama dengan PM & Engineer
Warning: Kalau kamu benci matematika dan ngeliat dashboard analytics bikin pusing, Meta akan jadi siksaan. Jangan dipaksakan.
Kesimpulan & Rekomendasi
Setelah ngulik kedua program secara mendalam, ini verdict yang jujur: Google UX Design lebih “aman” dan universal. Itu adalah pilihan default yang tepat untuk 80% orang. Portofolio yang dihasilkan mudah dipahami recruiter, skillnya cukup untuk dapet kerja pertama, dan risikonya minimal.
Tapi kalau kamu punya background teknis atau business, dan kamu mau command higher salary dengan positioning sebagai Product Designer yang data-literate, Meta adalah secret weapon. Sertifikat ini masih jarang di Indonesia, jadi bisa jadi differentiator kuat.
Alternatif ketiga? Ambil Google dulu, selesaikan dalam 6 bulan, dapet kerja freelance atau junior. Terus ambil Meta sebagai upskill saat kamu sudah punya income. Ini rute yang paling banyak saya lihat sukses.
Yang terpenting: sertifikat itu hanya gateway. Yang bakaruhire kamu adalah portofolio dan kemampuan menjelaskan proses desainmu. Jangan jadi orang yang koleksi sertifikat tapi portofolio kosong.
Semoga membantu keputusanmu! Kalau masih bingung, coba ambil free trial 7 hari di Coursera untuk dua-duanya. Coba 1-2 minggu, rasain mana yang lebih “klik” sama cara belajarmu. Good luck!




