Kamu pasti pernah dengar cerita ini: daftar Skillshare penuh semangat, tenggelam dalam lautan kelas menarik, tapi 3 bulan kemudian… berhenti berlangganan. Statistik internal platform bahkan menunjukkan churn rate di atas 60% untuk user bulanan. Bukan karena mereka malas, tapi ada sesuatu yang lebih dalam.
Sebagai praktisi yang sudah 7 tahun bergelut dengan e-learning, aku ingin bercerita jujur: Skillshare itu seperti buffet all-you-can-eat yang bikin kamu kenyang tapi nggak puas. Ada kenikmatan, tapi juga ada alasan kuat mengapa banyak teman-teman profesional memutuskan untuk tidak perpanjang langganan.
1. Kualitas Konten yang Nggak Konsisten: Jack of All Trades, Master of None
Ini masalah paling krusial. Skillshare punya 35.000+ kelas, tapi kualitasnya seperti rolet Rusia. Satu kelas bisa brilian, kelas berikutnya bikin ngantuk.
Aku pernah ambil kelas UI Design dari instruktur top dengan 50.000+ murid. Materinya solid, project-based, dan feedbacknya konstruktif. Tapi seminggu kemudian, aku coba kelas “Advanced Prototyping” dan dapatin instruktur yang cuma nge-screen record tanpa penjelasan konsep, audio berbisik, dan project yang ambigu.
Alasannya? Model Open Platform
Skillshare memang siapa saja bisa jadi pengajar. Nggak ada proses kurasi ketat seperti Coursera atau LinkedIn Learning. Mereka mengandalkan user rating, tapi rating bisa dimanipulasi. Banyak instruktur baru yang paham marketing tapi minim pedagogi.
Data dari EdSurge (2023) menunjukkan hanya 23% kelas Skillshare yang punah rating di atas 4.5 bintang dengan lebih dari 1.000 review. Sisanya? Berisiko jadi pengalaman belajar yang mengecewakan.
Platform ini jadi surga bagi hobbyist tapi neraka bagi yang butuh skill spesifik untuk karir. Kamu bisa habiskan 10 jam cuma buat filter kelas yang worth it.
2. Model Subscription yang Bikin Instruktur Fokus ke Kuantitas, Bukan Kualitas
Bayangkan: instruktur Skillshare dibayar berdasarkan total menit ditonton, bukan jumlah murid yang selesaikan kelas. Ini bikin insentifnya nggak sehat.
Mereka cenderung buat kelas pendek, banyak episode, dengan hook di awal biar kamu nonton terus. Tapi nggak peduli apakah kamu benar-benar paham atau bisa apply skill tersebut. Aku pernah nemu kelas “30 Days of Animation” yang ternyata cuma 30 video 5 menit tanpa arah pembelajaran jelas.

Di platform lain seperti Udemy, instruktur termotivasi buat kelas komprehensif karena dibayar per purchase. Di Skillshare, makin panjang videonya, makin besar income mereka. Hasilnya? Fluff content yang ngulang-ngulang poin nggak penting.
3. Kurangnya Learning Path untuk Skill Kompleks
Mau jadi Data Scientist? Di Coursera, kamu bisa ikut Professional Certificate dari IBM dengan urutan kelas yang jelas. Di Skillshare? Kamu harus jadi detektif dulu.
Platform ini nggak punah structured curriculum yang benar. Kelas-kelasnya saling independen. Instruktur A ngajarin Python dasar dengan cara A, Instruktur B ngajarin “Python for Data” tapi expect kamu udah paham library spesifik yang nggak dia sebutin.
Real Case: Learning Gap yang Berbahaya
Teman ku, seorang PM di startup, mau belajar SQL dasar. Dia selesaikan 3 kelas Skillshare, tapi pas di kantor, dia nggak bisa nulis query join yang kompleks. Ternyata, kelas-kelas itu nggak cover subquery dan window functions. Dia harus balik ke mode Googling lagi.
Skillshare bagus untuk skill sampling, tapi buruk untuk skill mastery. Kamu butuh platform yang punah kurikulum terarah kalau mau serius naik level karir.
4. Komunitas yang Tampak Aktif, Tapi Dangkal
Fitur “Community” di Skillshare terlihat menarik di iklan. Kamu bisa upload project, dapat feedback, diskusi dengan murid lain. Realitanya?
- Feedback rate di bawah 15%: Dari 20 project yang ku upload, cuma 3 yang dapat komentar berarti. Sisanya? “Great job!” atau emoji.
- Diskusi yang mati: Banyak forum diskusi yang terakhir aktif 6 bulan lalu.
- Instruktur yang ghosting: Beberapa instruktur top nggak pernah balas pertanyaan di forum, padahal itu yang dijanjikan.
Bandungkan dengan Scrimba (untuk coding) yang punah Discord community aktif 24/7, atau Maven yang punah live cohort interaction. Skillshare punah asynchronous community yang terasa sepi.
Platform ini lebih mirip Netflix dengan comment section daripada sekolah online dengan teman sekelas.
5. Ketersediaan Konten Gratis yang Sama Kualitasnya
Ini yang paling bikin miris. Banyak kelas Skillshare yang materinya… bisa kamu temukan di YouTube dengan kualitas setara atau lebih baik.
Aku pernah bandingin kelas “Instagram Marketing 2024” di Skillshare (rating 4.6) vs playlist YouTube dari Later.com. Isinya 70% sama, tapi versi YouTube lebih update karena dirilis 2 bulan lalu, sementara kelas Skillshare udah 8 bulan nggak di-update.
Dimana Skillshare Kalah?
| Aspek | Skillshare | YouTube Premium | LinkedIn Learning |
|---|---|---|---|
| Harga per bulan | $32 | $14 | $40 (termasuk LinkedIn Premium) |
| Update konten | Sekali setahun (rata-rata) | Realtime | Quarterly |
| Kualitas kontrol | Minimal | Algoritma + Report | Kurator internal ketat |
| Sertifikat | Nggak ada | Nggak ada | Ada, shareable |
Skillshare cuma unggul di ad-free experience dan project-based (kalau ketemu kelas yang bagus). Tapi untuk konten teknis yang cepat berubah, YouTube lebih relevan.
6. Harga yang Nggak Sebanding dengan Value Saat Ini
Dulu, $15/bulan (annual plan) worth it banget. Sekarang? Harga naik jadi $32/bulan untuk plan bulanan, tapi value-nya nggak ikut naik.
Platform ini nggak punah offline download di mobile (banyak bug), app-nya sering crash, dan search engine-nya payah. Coba cari “Python for finance” dan kamu bakal dapat rekomendasi kelas watercolour painting di page 3. True story.
Bandungkan dengan Domestika yang $30 sekali bayar per kelas tapi kualitas produksi luar biasa, atau edX yang punah audit gratis untuk kelas universitas top. Skillshare terjebak di tengah: nggak murah, tapi juga nggak premium.
Kapan Skillshare MASIH Worth It?
Setelah semua kritik, aku nggak bilang Skillshare sampah. Ada niche spesifik di mana platform ini masih juara:
- Hobbyist & Creative Explorer: Mau coba calligraphy, watercolour, atau creative writing? Skillshare juaranya. Konten kreatifnya lebih kaya dan variatif dibanding platform lain.
- Professional yang butuh “inspiration injection”: Designer yang butuh ide segar? 30 menit nonton kelas UI/UX case study bisa trigger ide baru. Tapi jangan harap deep technical skill.
- Budget learner dengan waktu fleksibel: Kalau kamu cuma punah 1-2 jam seminggu dan mau coba beragam skill tanpa komitmen, annual plan Skillshare masih lebih murah daripada beli 10 kelas di Udemy.
Intinya: Skillshare itu alat, bukan solusi. Ia bagus untuk eksplorasi, buruk untuk spesialisasi.
Kesimpulan: Jujur dari Seorang Mantan Subscriber
Aku berhenti langganan Skillshare setelah 3 tahun. Bukan karena aku sudah “pintar”, tapi karena kebutuhanku berubah dari exploration ke mastery. Dan Skillshare nggak bisa follow.
Kalau kamu:
- Mahasiswa atau fresh graduate yang masih cari passion → Coba 1 bulan, lalu stop. Cukup buat tahu arah.
- Professional mid-level yang butuh spesialisasi → Skip. Investasi di Coursera, LinkedIn Learning, atau bootcamp spesifik.
- Pengusaha atau freelancer yang butuh skill cepat → Pilih-pilih kelas spesifik dengan instruktur terbukti, jangan ikuti rekomendasi platform.
Skillshare itu seperti perpustakaan kota: banyak buku menarik, tapi nggak ada kurator yang bantu kamu baca yang mana dulu. Kadang kamu butuh perpustakaan universitas dengan dosen pembimbing.
Sebelum daftar, tanya dirimu: “Apakah aku butuh hiburan edukatif atau transformasi karir?” Jawabannya bakal nentukan apakah Skillshare worth it atau buang-buang uang.
Semoga review ini membantu keputusanmu. Kalau masih ragu, coba trial gratis mereka, tapi set reminder di hari ke-6 buat evaluate. Jangan jadi korban subscription trap yang cuma bikin wallet jebol tapi skill nggak naik-naik.




