Pernah nggak sih kamu bingung mau mulai belajar Machine Learning dari mana? Internet penuh kursus, tapi takut salah pilih: yang terlalu teori bikin ngantuk, yang terlalu praktis nggak kuat fundamental. Aku pernah di sana. Setelah habis waktu (dan uang) coba tiga kursus populer—Andrew Ng, IBM, sama Udacity—ini cerita jujur plus perbandingan lengkapnya biar kamu nggak coba-coba sendirian.
Tiga Kandidat, Tiga Filosofi Berbeda
Sebelum kita bedah detail, penting banget paham dulu ‘rasa’ masing-masing kursus. Mereka bukan cuma beda logo, tapi beda cara menyajikan ilmu.
Andrew Ng itu seperti dosen kampus top yang bener-bener ngajarinmu mikir seperti ilmuwan data. IBM? Kayak trainer di workshop perusahaan yang fokusnya “pakai tool ini, selesaikan masalah itu”. Udacity? Mirip bootcamp intensif dengan mentor personal yang nge-push project sampai jadi.

Kurikulum & Kedalaman Materi: Matematika vs Aplikasi vs Proyek
Ini yang paling krusial. Kurikulum menentukan apakah kamu bakal jadi engineer yang kuat teorinya atau practitioner yang cepat lapangan.
Andrew Ng (DeepLearning.AI): The Math Guy
Kursus klasik ini masih pakai Octave/Matlab untuk versi gratisnya. Jangan kaget, ini sengaja. Tujuannya biar kamu fokus ke konsep, bukan syntax. Linear regression, logistic regression, neural networks—semua dijelaskan dari rumus, turunan, sampai implementasi dari nol.
Poin plus: Kamu paham BENAR kenapa learning rate penting, kenapa overfitting terjadi di level matematika. Poin minus: butuh stamina akademik. Kalau kamu baru lulus SMA atau nggak terbiasa kalkulus, 3-4 jam per minggu mungkin cukup untuk nangis.
Data konkret: 11 minggu, 18 assignment. Setiap assignment butuh 3-6 jam kalau beneran mau paham, bukan coba-coba kode orang.
IBM Professional Certificate: The Toolbox Master
Enam kursus dalam satu sertifikat. Mulai dari Python dasar, data analysis dengan Pandas, visualization dengan Matplotlib, sampe supervised & unsupervised learning. Praktis banget. Kamu bakal pakai IBM Watson Studio, real cloud environment.
Poin plus: Langsung pakai Python dan library modern (Scikit-learn, Seaborn). Poin minus: depth-nya dangkal. Decision Tree dijelaskan 15 menit, langsung praktek. Nggak ada turunan matematika, jadi kamu tahu “cara pakainya” tapi nggak paham “kenapa ini bekerja”.
Data konkret: 6 kursus, total 120 jam. Tapi 30% durasinya video speed 1.25x masih terasa lambat karena materinya nggak terlalu padat.
Udacity ML Nanodegree: The Project Obsessed
Tiga bulan intensif. Kurikulumnya terbagi jadi 6 project: Predicting Boston Housing Prices, Customer Segmentation, Training a Smartcab to Drive, dll. Setiap project punya rubrik penilaian jelas dan code review dari mentor.
Poin plus: Kamu punya portfolio konkret 6 project yang bisa dipamerin ke recruiter. Poin minus: Teorinya sangat ringkas. Mereka kasih “cukup tahu” untuk selesaikan project. Kalau kamu mau paham fundamental, harus belajar sendiri di luar.
Data konkret: 10 jam/minggu selama 12 minggu. Tapi realitanya? 15-20 jam kalau mau projectnya “pass” dengan feedback bagus.
Gaya Pengajaran & Pembelajaran: Dosen, Trainer, atau Mentor?
Gaya ngajar sangat mempengaruhi motivasi. Ada yang suka formal, ada yang suka santai. Ini perbedaannya:
- Andrew Ng: Suara pelan, slide hitam-putih dengan tulisan tangan. Nggak ada candaan. Setiap kata dihitung. Cocok buat yang suka fokus murni ke konten.
- IBM: Instruktur ganti-ganti. Ada yang energik, ada yang datar. Slide warna-warni, banyak animasi. Terasa seperti webinar korporat. Kadang terlalu “salesy” soal produk IBM.
- Udacity: Video pendek (1-3 menit) dengan quiz di tengah-tengah. Mentor via chat (24 jam) dan review code (1-2 hari kerja). Paling interaktif, tapi kualitas mentor bisa inconsisten.
Praktik & Hands-on: Octave, Jupyter, atau IDE?
Bagian ini yang bikin beda. Kamu mau ngetik kode di environment tahun 2000-an atau di cloud modern?
Andrew Ng: Octave/Matlab. Nggak relevan industri? Bener. Tapi ini feature, not bug. Dengan Octave, kamu bikin neural network dari nol pakai loop. Paham backpropagation di level implementasi. Kalau langsung pakai TensorFlow, kamu cuma jadi API caller. Tapi ya, nggak bisa dipamerin di GitHub.
IBM: Jupyter Notebook di IBM Watson Studio. Paling modern. Semua udah setup. Tinggal run cell. Tapi environmentnya kadang lemot, dan kamu nggak belajar setup environment sendiri—skill penting di dunia kerja.
Udacity: Jupyter Notebook juga, tapi projectnya lebih kompleks. Kamu harus submit .py file yang bisa di-run di local environment reviewer. Ini paksa kamu belajar virtual environment, dependency management, dan clean code. Paling real-world.
Biaya & Akses: Gratis, Berlangganan, atau Sekali Bayar?
Budget seriusan jadi faktor. Ini breakdown lengkapnya:
| Aspek | Andrew Ng (Coursera) | IBM (Coursera) | Udacity |
|---|---|---|---|
| Biaya | Gratis audit, $49/bulan untuk sertifikat | $49/bulan (butuh ~4-6 bulan) | $399/bulan atau $1017 sekali (3 bulan akses) |
| Akses Materi | Selamanya (audit) | Selamanya (audit) | Hanya 3 bulan (extend $150/bulan) |
| Free Trial | 7 hari | 7 hari | Mulai gratis, bayar untuk project review |
| Refund | 14 hari | 14 hari | 7 hari (partial) |
Tips hemat: Andrew Ng bisa 100% gratis. Nggak perlu sertifikat kalau cuma buat belajar. IBM juga bisa di-audit per kursus. Udacity? Nggak ada opsi gratis. Tapi mereka sering kasih diskon 50-75% kalau kamu nungguin promo.
Durasi & Intensitas: Realistis atau Ambisius?
Jangan percaya estimasi resmi. Ini realita dari komunitas:
- Andrew Ng: 11 minggu x 5 jam = 55 jam. Realita: 80-100 jam kalau mengerjakan semua assignment dengan paham.
- IBM: 6 kursus x 20 jam = 120 jam. Realita: 60-80 jam karena banyak video bisa di-skip dan labnya guided.
- Udacity: 12 minggu x 10 jam = 120 jam. Realita: 150-180 jam karena debug project bisa makan waktu 5-10 jam per project.
Warning: Kalau kerja full-time, ambil satu kursus sekaligus. Jangan rakit ketiganya. Burnout di minggu 3 itu nyata.
Dukungan & Komunitas: Sendirian atau Berjamaah?
Belajar online itu sepi. Komunitas bisa jadi penyelamat.
Andrew Ng: Forum Coursera. Sudah 10+ tahun, jadi hampir semua pertanyaan sudah dijawab. Tapi respons lambat (3-7 hari). Komunitas Indonesia ada di Telegram (5k+ member), aktif banget.
IBM: Forum Coursera juga, tapi lebih sepi karena kursusnya lebih baru dan kurang viral. Slack channel internal IBM? Nggak ada. Kamu lebih banyak bergantung pada Q&A di video.
Udacity: Slack channel aktif (global dan regional). Mentor respons 24 jam. Tapi kualitas mentor beda-beda. Ada yang kasih hint brilian, ada yang copy-paste docs. Plus: 1-on-1 career coaching 3x selama program. Ini beda kelas.
Relevansi Karir: Portfolio, Sertifikat, atau Skill?
Rekruter nggak peduli sertifikat. Mereka peduli skill dan portfolio. Tapi sertifikat bisa jadi foot in the door.
Andrew Ng: Sertifikat Coursera paling dikenal. Tapi yang lebih penting: kamu bisa jelaskan bias-variance tradeoff dengan matematika di interview. Cocok buat research role atau top tech companies.
IBM: Sertifikat “Professional Certificate” terkesan korporat. Bisa di-link ke LinkedIn. Tapi portfolio kamu cuma lab-lab guided. Nggak ada project end-to-end. Cocok buat internal promotion di perusahaan yang pake IBM stack.
Udacity: Nanodegree punya brand “bootcamp”. Portfolio 6 project bisa jadi centerpiece CV. Reviewer feedback juga bisa dijadikan cerita di behavioral interview. Cocok buat career switcher.
Rekomendasi Berdasarkan Persona: Siapa Kamu?
Setelah semua analisis, ini verdict terang-terangan berdasarkan profilmu:
Pilih Andrew Ng kalau kamu:
- Mahasiswa STEM atau fresh graduate yang punya waktu 6-10 jam/minggu
- Mau PhD atau role ML Engineer di Google, Meta, dsb
- Suka matematika dan nggak takut rumus
- Butuh fondasi rock-solid sebelum deep dive ke deep learning
Insider tip: Aku rekomendasikan 90% orang mulai dari sini. Sakit di awal, tapi nggak akan bingung lagi konsep dasar. Nggak perlu beli sertifikat dulu. Audit gratis, kalau udah 50% baru bayar biar ada commitment.
Pilih IBM kalau kamu:
- Professional di bidang lain (finance, marketing) yang mau tambah skill ML praktis
- Butuh hasil cepat dalam 2-3 bulan untuk promotion atau internal transfer
- Kurang peduli teorinya, asal bisa buat model prediksi
- Perusahaanmu pake IBM ecosystem
Pilih Udacity kalau kamu:
- Career switcher dari non-IT (design, sales, dsb)
- Punya budget $1000+ dan waktu 15+ jam/minggu
- Butuh accountability (deadline + mentor) buat nyelesaikan
- Mau portfolio langsung bisa dipamerin
Tips Memilih & Kombinasi Optimal
Nggak harus pilih satu. Ini kombinasi terbaik berdasarkan budget dan waktu:
Budget minim (gratis – $50): Andrew Ng (audit) → Kaggle Learn Micro Courses (Python, Pandas) → 1 Kaggle Competition. Kamu dapat fundamental + skill praktis + portfolio.
Budget medium ($50 – $300): Andrew Ng (sertifikat) → IBM Course 1-2 (Python & Data Analysis). Kamu dapat sertifikat + skill praktis tanpa ngulang teori.
Budget max ($1000+): Andrew Ng (audit) → Udacity (Nanodegree). Kamu kuat teorinya, lalu langsung project intensif. Nggak perlu IBM karena Udacity udah cover praktiknya.
Kesimpulan: Nggak Ada yang “Terbaik”, Tapi Ada yang “Paling Tepat”
Setelah 200+ jam belajar dan ngajar, aku tetap balik ke Andrew Ng sebagai starting point. Bukan karena paling gampang, tapi karena paling susah untuk ditiru. Fundamental kuat itu nggak bisa dibeli dengan uang.
IBM adalah accelerator kalau kamu udah tahu mau kemana. Udacity adalah investasi karir kalau kamu serius switch field.
Final thought: Jangan terjebak analysis paralysis. Pilih satu, commit 2 minggu. Kalau nggak nyaman, ganti. Yang penting start now. Machine Learning itu marathon, bukan sprint. Dan marathon dimulai dari langkah pertama, bukan sepatu paling mahal.
Catatan pribadi: Aku selesaikan Andrew Ng 2x: sekali pas 2017 (failed di minggu 4, lanjut lagi 2018). IBM aku cuma 2 kursus karena terlalu dangkal. Udacity? Aku ambil scholarship 50% dan selesaikan 14 minggu (lebih lama dari estimasi). Setelah itu, baru aku apply kerja dan diterima. Jadi ya, ini bukan teori. Ini battle-tested.




