Kalau denger kata “kursus gratis”, biasanya alarm skeptis langsung berbunyi di kepala. Apa iya ada yang bagus? Atau nanti malah jebakan bombastis promosi produk? Aku pernah di situ. Tapi setelah habis puluhan jam di HubSpot Academy, aku bisa bilang: ini salah satu pengecualian yang bikin kamu berpikir ulang soal kualitas vs harga.

Pengalaman Pertama: Kesan yang Nggak Nanggung-nanggung
Daftar HubSpot Academy itu literally 30 detik. Email, password, done. Nggak ada upselling mengganggu, nggak ada kartu kredit yang diminta. Dashboard-nya bersih, kayak Netflix-nya dunia marketing dan sales.
Aku mulai dengan Inbound Marketing Certification—kursus flagship mereka. Bayangin aja, 4 jam video yang dibagi jadi 12 lesson. Masing-masing cuma 10-15 menit, perfect untuk konsentrasi millennial yang… ya, kamu tahu sendiri.
Kualitas Materi: Teori yang Langsung Bisa Dipakai Besok Pagi
Ini yang bikin beda. Materi di HubSpot Academy nggak cuma slide PowerPoint berjalan. Mereka kasih real templates yang bisa langsung di-download. Misalnya di kursus Content Marketing, mereka kasih editorial calendar template yang sampai sekarang masih aku pakai untuk klien.
Contoh Konkret: Lesson tentang Buyer Persona
Mereka nggak cuma jelaskan “buyer persona itu penting”. Mereka kasih Make My Persona Tool—wizard interaktif yang guidelu bikin persona lengkap. Hasilnya PDF siap pakai. Ini contoh nyata bagaimana mereka transform teori jadi action.
Update juga cepat. Saat Google Analytics 4 launch, mereka update kursus Digital Advertising dalam 3 bulan. Bukan 1 tahun kayak platform lain.
Gaya Pengajar: Kayak Dengerin Podcast, Bukan Webinar Membosankan
Instruktur mereka kayak Kyle Jepson punya energi yang nggak lebay. Ngomong cepat, to the point, tapi tetap human. Banyak analogi: “Think of your CRM like a digital Rolodex that remembers your last conversation.” Simple tapi ngena.
Video juga nggak cuma talking head. Ada animasi, screen recording, dan case study dari bisnis kecil sampai enterprise. Variasi ini bikin 15 menit feels like 5 menit.
Relevansi dengan Dunia Kerja: Sertifikat yang Diakui HR
Di LinkedIn, ada lebih dari 200 ribu orang yang mencantumkan HubSpot Academy certifications. Bukan angka main-main. Aku pernah interview untuk posisi marketing manager, dan recruiter langsung notice: “Oh, kamu punya Inbound sertifikat dari HubSpot, bagus.”
Tapi ini kunci: sertifikatnya hanya valuable kalau kamu bisa jelaskan apa yang kamu pelajari bukan cuma apa yang kamu tonton. Interviewku sukses bukan karena badge-nya, tapi karena aku bisa ceritakan gimana aku implement lead scoring di project sebelumnya.
Keuntungan “Gratis” yang Ternyata Nggak Ada String Attached
Gratis di sini 100% gratis. Nggak ada versi “freemium” yang dikunci. Kamu bisa akses semua video, quiz, dan sertifikat. Source of revenue mereka jelas: mereka harap kamu jadi user HubSpot CRM (yang juga punya free tier). Tapi nggak ada hard sell.
Bandungin dengan platform lain:
| Fitur | HubSpot Academy | Platform Premium |
|---|---|---|
| Harga | Gratis | $49-$199/bulan |
| Sertifikat | Unlimited | Terbatas per bulan |
| Update Materi | 3-6 bulan | 1-2 tahun |
| Tools Praktis | Templates, calculators | Mostly video only |
Kekurangan yang Perlu Kamu Tahu Sebelum Dives In
Nggak ada yang sempurna, dan HubSpot Academy punya batasan:
- Fokus Ekosistem HubSpot: Tools yang mereka ajarkan mostly integrate dengan HubSpot CRM. Kalau kamu pakai competitor, perlu adaptasi manual.
- Kurangnya Peer Interaction: Nggak ada forum diskusi yang hidup. Komunitasnya ada di LinkedIn, tapi nggak terintegrasi.
- Depth vs Breadth: Untuk topik advanced kayak marketing automation, mereka cukup surface-level.
Sertifikasi juga butuh renewal tiap 2 tahun. Ini sebenarnya bagus buat keep you updated, tapi bisa jadi hassle kalau kamu udah koleksi banyak badge.
Proses Sertifikasi: Ujian yang Menguji Pemahaman, Bukan Ingatan
Setiap kursus diakhiri ujian 60 menit, 60 pertanyaan. Kamu butuh 75% untuk lulus. Tapi beda dengan ujian memorisasi, pertanyaannya case-based: “Jika perusahaan X punya masalah Y, strategi inbound apa yang paling efektif?”
Kamu bisa retake tiap 12 jam kalau gagal. Aku pernah fail di Email Marketing Certification di attempt pertama. Lesson learned: mereka serious soal mastery, bukan cuma checklist.
Untuk Siapa Sih Ini? Jangan Salah Kaprah
HubSpot Academy perfect buat:
- Fresh graduate yang mau bangun portofolio praktis
- Small business owner yang mau DIY marketing
- Career switcher dari non-marketing ke digital
- Professional yang mau upskill tanpa budget
Tapi kurang cocok kalau kamu:
- Sudah 5+ tahun di digital marketing dan cari advanced strategy
- Butuh mentorship 1-on-1
- Mau belajar teknis coding dalam-dalam
Tips Memulai: Jangan Jadi Kolektor Badge
Aku pernah jatuh ke trap ini: ambil 5 kursus sekaligus, nggak selesai-selesai. Ini strategi yang work:
- Pilih satu learning path: Sales atau Marketing atau Service. Jangan campur-campur.
- Praktikkan langsung: Setelah lesson 1, buka spreadsheet dan apply. Jangan tunggu selesai semua.
- Catat di LinkedIn progressnya: Bukan cuma pas udah dapet badge, tapi tiap selesai satu lesson penting.
Tools gratis kayak Website Grader atau Make My Persona bisa jadi pintu masuk buat apply teori tanpa harus punya website dulu.
Kesimpulan: Investasi Waktu yang Nggak Akan Menyesatkan
Setelah lebih dari 30 jam belajar dan 6 sertifikat, aku bisa bilang: HubSpot Academy itu masterclass gratis terstruktur yang nggak banyak kompromi. Memang ada trade-off, tapi untuk harga “nol rupiah”, return on time investment-nya luar biasa.
HubSpot Academy adalah seperti sekolah mengemudi yang ngajari kamu teori, praktek di simulator, dan kasih SIM gratis. Mobilnya (CRM) mereka jual terpisah, tapi skill nyetirnya tetap berguna di mobil apa pun.
Kalau kamu lagi cari landasan kuat dalam digital marketing atau sales tanpa keluar uang, ini starting point terbaik. Tapi ingat: sertifikat hanya jadi pintu. Skill yang kamu praktikkan yang akan buka pintu itu.
Pertanyaan sekarang bukan “apakah berkualitas?” tapi “kapan kamu mulai?”




