Sebagai kreator yang juga pernah nol kemampuan, gue paham banget betapa overwhelming-nya lihat deretan platform kursus online. Skillshare dan MasterClass? Dua-duanya keliatan keren, tapi budget terbatas. Mau belajar desain di Skillshare, tapi lihat trailer MasterClass-nya Natalie Portman atau Neil Gaiman, langsung pengen ikutan juga. Eits, tahan dulu. Gue sudah bolak-balik dua platform ini bertahun-tahun, dan jawabannya nggak se-simple “yang mana lebih bagus”. Tergantung kamu butuh skill atau butuh inspirasi.
Pertama, Kenali Dirimu: Butuh Skill Cepat atau Butuh Inspirasi Dalam?
Sebelum bahas fitur, gue mau kamu jawab satu pertanyaan: tujuan belajarmu apa? Kalau jawabannya “aku mau bisa bikin logo di Illustrator dalam seminggu”, maka jawabannya jelas. Kalau “aku mau paham cara berpikir seorang direktur film”, maka lain cerita.
Skillshare itu seperti workshop praktis di bawah tanah. Kelas-kelasnya fokus pada deliverables. Selesai kelas, kamu harusnya punya portofolio. MasterClass? Bioskop premium. Kamu duduk manis, mendengar masterclass dari orang-orang paling berpengaruh di industri. Portofolio nggak langsung jadi, tapi visimu bisa 10x lebih besar.

Perbandingan Head-to-Head: Data Nyata, Bias Real
Mari kita bedah fakta-fakta keras supaya kamu nggak cuma ikut hype. Gue buat tabel ini setelah ngitung-ngitung sendiri dan nyobain puluhan kelas di masing-masing.
| Aspek | Skillshare | MasterClass |
|---|---|---|
| Harga (2024) | $165/tahun (~Rp 2,6 juta) | $180/tahun (~Rp 2,8 juta) |
| Jumlah Kelas | 40,000+ kelas | 150+ kelas |
| Lama Kelas Rata-rata | 30 menit – 3 jam | 2 – 5 jam |
| Gaya Pengajar | Praktisi aktif, vlogger, freelancer | Celebrity, Oscar winner, CEO |
| Struktur Belajar | Project-based, step-by-step | Philosophy, narrative, story-driven |
| Kualitas Produksi | Bervariasi (amateur hingga pro) | Netflix-level, cinematic |
| Komunitas | Forum project, feedback aktif | Tidak ada forum interaktif |
| Trial | 7 hari gratis | Tidak ada trial, 30-day guarantee |
Angka di atas udah cukup bikin kita sadar: Skillshare itu volume, MasterClass itu vibe. Tapi mari gue jabarkan lebih dalam.
Gaya Mengajar: “Sini Gue Ajar” vs “Dulu Gue Begini”
Skillshare: Belajar Sambil Ngerjain
Pengajar di Skillshare rata-rata orang yang masih in the trenches. Mereka freelancer yang punya client, YouTuber yang monetized, atau illustrator yang punya shop. Kelasnya seperti “gue akan ajarkan teknik gue, ikuti step-by-step”.
Contoh konkret: Kelas Logo Design with Draplin itu 90 menit. Di menit ke-15 kamu udah buka Illustrator dan nge-trace. Di menit ke-60, kamu harusnya punya 3 varian logo. Di akhir kelas, kamu upload project ke galeri. Feedback dari murid lain bisa datang dalam hitungan jam. Ini sangat cocok buat kreator pemula yang butuh momentum.
Tapi ada trade-off: kualitas ngajarnya nggak selalu konsisten. Gue pernah ikut kelas desain UI yang instrukturnya ngomong pelan banget dan ngulang-ngulang. Di kelas lain, ada yang ngajarnya kayak ngebut. Kamu harus jeli baca review.
MasterClass: Belajar Sambil Mikir
Di sini, pengajar adalah orang paling top di bidangnya. Chris Voss (FBI negotiator), Daniel Pink (bestselling author), atau Timbaland (music producer). Mereka nggak ngajarkan “cara render video di Premiere”. Mereka ngajarkan framework berpikir.
Contoh konkret: Kelas Neil Gaiman tentang Storytelling itu 5 jam. Dia nggak kasih template cerita. Dia bercerita tentang prosesnya menulis American Gods, cara dia cari ide dari mimpi, dan filosofinya soal karakter. Kamu nggak akan langsung bisa nulis novel, tapi mindset-mu akan berubah.
Kekurangannya: kamu bisa bosan kalau ekspektasimu “langsung praktik”. Gue pernah ngantuk di kelas Anna Wintour soal leadership karena terlalu abstrak buat level gue waktu itu.
Struktur Kelas: Project-Based vs Narrative-Driven
Skillshare punya Class Project yang wajib. Ini kekuatan utama. Kamu nggak cuma nonton, tapi deliver. Misalnya di kelas Social Media Content Strategy, tugas akhirnya: buat content calendar 1 bulan. Kamu upload, dapat feedback, revisi, dan voila—portofolio.
MasterClass punya Workbook yang downloadable. Isinya rangkuman, latihan refleksi, dan challenge. Tapi nggak ada deadline, nggak ada feedback. Ini self-driven banget. Kalau kamu tipe yang butuh accountability, ini bisa jadi boomerang.
Harga dan Value for Money: Mana yang Lebih “Worth It”?
Skillshare $165/tahun dengan 40,000+ kelas artinya setiap kelas harganya $0,004. MasterClass $180/tahun dengan 150 kelas artinya setiap kelas $1,2. Secara matematika, Skillshare lebih murah. Tapi value bukan soal jumlah.
Gue perhitungkan begini: kalau dalam setahun, kamu selesaikan 20 kelas Skillshare dan 5 kelas MasterClass, mana yang lebih impactfull? Jawabannya kembali ke tujuan. 20 kelas Skillshare bisa bikin kamu punya 15 project portofolio. 5 kelas MasterClass bisa bikin kamu punya 5 “aha moment” yang mengubah arah karir.
Untuk kreator pemula yang butuh income cepat, Skillshare lebih worth it. Untuk kreator yang punya day job stabil dan ingin naik level, MasterClass bisa jadi investasi jangka panjang.
Komunitas: Dari Mana Kamu Dapat Feedback?
Ini poin penting yang sering diabaikan. Di Skillshare, komunitasnya hidup. Murid-murid saling komentar, saling follow, bahkan ada yang kolaborasi di project. Gue pernah dapat client dari komentar di project gue. Ini networking yang organik.
MasterClass nggak punya forum. Kamu belajar sendiri. Tapi mereka punya Sessions, fitur baru di mana ada instruktur non-celebrity yang ngajar live dan ada feedback. Tapi tetap, nuansanya lebih seperti webinar, bukan komunitas.
Relevansi untuk Kreator Pemula: Use Case Spesifik
Mari gue kasih rekomendasi berdasarkan skenario nyata:
Pilih Skillshare Kalau:
- Kamu butuh skill teknis: desain, video editing, copywriting, SEO.
- Kamu ingin bangun portofolio dalam 3 bulan.
- Kamu butuh feedback cepat dan komunitas aktif.
- Budget kamu ketat dan mau coba trial dulu.
Pilih MasterClass Kalai:
- Kamu butuh inspirasi dan mindset, bukan tutorial.
- Kamu penggemar berat instruktur spesifik (misal: belajar film dari Martin Scorsese).
- Kamu sudah punya basic skill dan mau naik level strategic.
- Kamu tipe belajar yang self-motivated kuat.
Gabungkan Keduanya? Bisa, Tapi…
Gue pernah langganan dua-duanya dalam satu tahun. Strateginya: Skillshare untuk skill harian, MasterClass untuk weekend inspiration. Tapi gue sadar, ini overkill buat kebanyakan orang. Waktu dan energi terbatas. Lebih baik deep di satu platform dulu.
Kalau kamu benar-benar pemula dengan budget cuma cukup satu, gue saranin mulai dari Skillshare. Alasannya sederhana: kamu butuh momentum. Kamu butuh project kecil yang selesai. MasterClass bisa ditunda sampai kamu punya skill dasar dan punya pertanyaan filosofis yang lebih dalam.
Kesimpulan Gue: Untuk kreator pemula, Skillshare memberikan ROI lebih cepat dalam bentuk skill dan portofolio. MasterClass adalah investment emosional dan strategis yang baru terasa manfaatnya setelah kamu punya pondasi kuat. Mulai dari Skillshare, naik level, lalu gunakan MasterClass untuk breakthrough.
Pro Tips dari Gue: Cara Maksimalin Platformnya
Biar nggak cuma jadi “viewer”, ini ritual gue:
Di Skillshare:
- Filter kelas dengan “Most Popular” + “This Year”. Skillshare punya banyak konten lawas yang udah outdated.
- Ikuti instruktur yang punja subscriber di YouTube. Mereka biasanya lebih update.
- Set target: 1 project per minggu. Jangan jadi “kelas kardus” yang cuma nonton doang.
Di MasterClass:
- Tonton 1 episode per hari, jangan binge. Butuh waktu meresap.
- Cetak workbook-nya. Serius, tulis tangan lebih efektif.
- Diskusikan dengan teman. Karena nggak ada forum, buat forum sendiri.
Final Verdict: Mana yang “Lebih Bagus”?
Jadi, jawaban untuk pertanyaan “mana yang lebih bagus” adalah: Lebih bagus untuk apa?
Kalau definisimu “bagus” adalah bisa langsung kerja, punya portofolio, dan dapat client—Skillshare jawabannya. Kalau definisimu “bagus” adalah punya visi yang jelas, mindset yang kuat, dan inspirasi untuk 10 tahun ke depan—MasterClass tak tertandingi.
Gue sendiri masih langganan Skillshare sampai sekarang untuk skill teknis. MasterClass gue langganan cuma setahun, tapi materi dari Chris Voss dan Neil Gaiman masih gue replay sampai sekarang. Itu adalah investasi yang nggak bisa diukur dengan harga kelas.
Pilihan ada di tanganmu. Tapi ingat: platform paling bagus adalah platform yang kamu pakai sampai selesai. Jangan jadi kolektor kelas. Jadi kreator yang selesaikan project. Selamat belajar!




